BeritaBerita MelawiDesaWarta Melawi

Kades Nanga Kayan Keluhkan Sulitnya Mendapatkan BBM, Harga Pertalite di Desa Capai Rp25 Ribu per Liter

6
×

Kades Nanga Kayan Keluhkan Sulitnya Mendapatkan BBM, Harga Pertalite di Desa Capai Rp25 Ribu per Liter

Sebarkan artikel ini

Wartamelawi.com – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) menjadi keluhan masyarakat di Kabupaten Melawi. Kondisi tersebut turut dirasakan Kepala Desa Nanga Kayan, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi.

Hamdan mengaku kesulitan mendapatkan BBM, khususnya Pertalite, meskipun telah berupaya mencarinya selama empat hari berturut-turut. Bahkan, pencarian dilakukan hingga sejumlah SPBU di wilayah Kabupaten Sintang.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan masyarakat yang tinggal di perkotaan, tetapi juga warga di wilayah pedesaan yang lokasinya jauh dari SPBU.

“Sudah empat hari berturut-turut saya mencari Pertalite. Dari SPBU di Melawi sampai ke SPBU di Sintang, saya tidak pernah mendapatkan Pertalite. Mengisi Pertamax yang non-subsidi saja juga sulit, apalagi yang bersubsidi,” ujar Hamdan. Senin (05/10/2026).

Ia mengungkapkan, masyarakat yang membutuhkan BBM akhirnya terpaksa membeli dari pengecer karena tidak memiliki pilihan lain. Namun, harga yang harus dibayar jauh lebih tinggi dibandingkan harga resmi.

“Kalau saya mengambil minyak di kaki lima, harga Pertamax rata-rata sudah Rp20 ribu per liter. Pertalite sekitar Rp18 ribu per liter. Bahkan di kampung saya, Desa Nanga Kayan, harganya sudah mencapai Rp23 ribu, bahkan ada yang menjual sampai Rp25 ribu per liter,” ungkapnya.

Hamdan berharap persoalan distribusi dan ketersediaan BBM tersebut mendapat perhatian serius dari pihak terkait, termasuk aparat penegak hukum (APH) maupun pejabat yang memiliki kewenangan dalam menangani persoalan BBM.

Ia meminta agar kondisi kelangkaan BBM di lapangan tidak dibiarkan berlarut-larut karena masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Tolong kepada pihak yang bisa menangani persoalan minyak kendaraan ini agar dipermudah. Terutama kepada pejabat yang berwenang, jangan pura-pura tidak tahu. Coba lihat kondisi di lingkungan SPBU, masyarakat sudah kesulitan mendapatkan minyak,” tegasnya.

Sebagai kepala desa, Hamdan mengaku prihatin terhadap kondisi masyarakat, terutama warga yang tinggal jauh dari pusat kota dan lokasi SPBU. Menurutnya, keterbatasan akses BBM akan semakin memberatkan masyarakat apabila harga di tingkat pengecer terus meningkat.

“Sekali lagi, saya sebagai Kepala Desa Nanga Kayan sangat memikirkan warga yang berada di pelosok dan jauh dari kota maupun SPBU. Kasihan masyarakat yang harus bersusah payah mendapatkan minyak untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Hamdan berharap pemerintah dan instansi terkait dapat segera mengambil langkah untuk memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi BBM, khususnya bagi masyarakat di wilayah pedesaan.

“Harapan kami, BBM bisa kembali mudah didapatkan masyarakat dengan harga yang wajar. Jangan sampai warga di desa semakin terbebani karena harus membeli BBM dengan harga yang jauh lebih mahal,” pungkasnya. (Bgs).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250Example 728x250

You cannot copy content of this page