BeritaBudayaDaerahWarta Melawi

Malam Penutupan Festival Budaya Katab Kebahan, Prof. Zaenuddin: “Katab Kebahan untuk Dunia”

421
×

Malam Penutupan Festival Budaya Katab Kebahan, Prof. Zaenuddin: “Katab Kebahan untuk Dunia”

Sebarkan artikel ini

Wartamelawi.com – Festival Budaya Katab Kebahan resmi ditutup oleh Profesor Zaenuddin, Guru Besar sekaligus akademisi IAIN Pontianak. Kehadirannya tidak hanya sebagai tamu kehormatan, tetapi juga menjadi pembicara utama dalam Seminar Budaya Katab Kebahan yang digelar pada Jumat siang. Penutupan festival berlangsung pada Jumat malam (22/8) di Desa Nanga Kebebu, Kabupaten Melawi.

Poto : Acara Bejapin pada malam penutupan

Dalam sambutannya, Prof. Zaenuddin menyampaikan penghargaan tinggi kepada panitia penyelenggara serta seluruh elemen masyarakat, khususnya keluarga besar Katab Kebahan yang tersebar di puluhan kampung.

“Festival ini adalah tonggak sejarah penting untuk mewarisi jejak leluhur dan menganyam masa depan yang lebih baik. Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia dan seluruh masyarakat yang telah bekerja keras sehingga acara ini berjalan dengan sangat sukses,” ungkap Guru Besar Studi Agama dan Lintas Budaya IAIN Pontianak tersebut.

Pria yang akrab disapa Prof. Zae itu juga mengajak masyarakat Katab Kebahan untuk terus menjaga serta melestarikan ragam seni budaya lokal, mulai dari tari jepin, pencak silat, musik gambus, seni menganyam tali, hingga berbagai kearifan lokal lainnya. Menurutnya, warisan leluhur harus dijaga agar tetap hidup dan dapat diwariskan lintas generasi.

Di akhir pidatonya, Prof. Zaenuddin menutup dengan seruan penuh semangat: “Katab Kebahan untuk Dunia!” Seruan ini menjadi penanda optimisme bahwa budaya lokal mampu bersaing dan mendapatkan pengakuan di kancah global.

Sementara itu, Ketua Ikatan Warga Katab Kebahan (IWKK), M. Yusli menegaskan eksistensi Katab Kebahan melalui moto “Totak Arai Nadak Putus”. Dalam bahasa Indonesia, pepatah itu bermakna “potong air tak akan putus”, yang melambangkan eratnya identitas dan ikatan kekeluargaan antar masyarakat Katab Kebahan.

“Festival ini membuktikan eksistensi kita sebagai keluarga besar orang Katab Kebahan. Mari kita jaga bersama. Festival ini bukan ajang untuk berbangga diri, tetapi untuk membuktikan bahwa kita memiliki budaya, karakter, dan identitas yang tetap hidup di tengah masyarakat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Yusli menuturkan bahwa Festival Budaya Katab Kebahan menampilkan kembali sejumlah kesenian dan tradisi yang hampir hilang. Salah satunya adalah tradisi membuat tali tradisional bernama Ual, yang bahkan diakuinya baru pertama kali ia saksikan sepanjang hidupnya. Begitu pula dengan pertunjukan Bejepin Anyam Tali oleh kelompok seni dari kampung tetangga yang menandai kebangkitan tradisi yang sempat vakum puluhan tahun.

“Ini adalah bukti kekayaan budaya kita yang harus terus digali, dirawat, dan diperkenalkan kepada generasi mendatang,” tambahnya.

Menutup pernyataannya, Yusli menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung kesuksesan acara tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bupati, DPRD, Camat, Forum Pembangunan Berkelanjutan (FPB), WWF Indonesia, para pemuda dalam komunitas Bekaban, serta tentu saja kepada Prof. Zaenuddin,” tutupnya. (Eko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250 Example 728x250 Example 728x250