Uncategorized

Jembatan Sungai Penganan Patah, 5 Desa Terancam Terisolasi Jelang Natal

336
×

Jembatan Sungai Penganan Patah, 5 Desa Terancam Terisolasi Jelang Natal

Sebarkan artikel ini

Wartamelawi.com – Jembatan Sungai Penganan di Desa Tumbak Raya, Kecamatan Sayan, mengalami patah pada struktur utamanya pada Jumat 28 November sehingga tidak dapat dilalui. Jembatan dengan panjang sekitar 22 meter itu merupakan satu-satunya akses penghubung yang digunakan warga dari lima desa, yakni Desa Madya Raya, Nanga Kompi, Nanga Mancur, Tumbak Raya, dan Landau Sadak.

Poto : Hermanus

Kerusakan ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Arus pemudik yang biasanya meningkat dikhawatirkan akan terhambat akibat terputusnya jalur vital tersebut.

Jembatan ini merupakan satu-satunya jalur penghubung dan akses vital bagi lima desa: Desa Madya Raya, Nanga Kompi, Nanga Mancur, Tumbak Raya, dan Landau Sadak. Kerusakan tersebut membuat aktivitas warga terganggu, mulai dari distribusi kebutuhan pokok, aktivitas sekolah, hingga pelayanan kesehatan.

Kondisi ini menjadi semakin mendesak karena perayaan Natal semakin dekat. Arus pemudik yang biasanya melintasi jembatan tersebut dikhawatirkan akan terhambat, bahkan terputus total.

Hermanus, mantan Anggota DPRD Melawi periode 2019–2024, menyuarakan keprihatinannya atas kondisi ini dan meminta pemerintah daerah segera bertindak tegas.

“Saya sangat berharap pemerintah daerah Kabupaten Melawi segera menyikapi dan melakukan perbaikan. Jembatan ini adalah akses utama bagi lima desa, dan kondisinya sekarang benar-benar tidak bisa dibiarkan,” tegas Hermanus. Sabtu (29/11/2025).

Ia menambahkan bahwa kerusakan jembatan tidak hanya berdampak pada mobilitas masyarakat, tetapi juga berpotensi menghambat roda perekonomian warga.

“Masyarakat sangat bergantung pada jembatan ini. Jika akses terputus, distribusi barang dan kebutuhan pokok otomatis terganggu. Apalagi sebentar lagi Natal, banyak warga yang akan pulang kampung. Pemerintah harus segera turun tangan,” sambungnya.

Hermanus kini berharap pemerintah daerah, baik melalui Dinas PUPR maupun instansi terkait lainnya, segera meninjau lokasi dan menetapkan langkah darurat, seperti pemasangan jembatan sementara atau perbaikan cepat.

Menurut Hermanus, beberapa warga bahkan mulai mengambil jalur alternatif yang lebih jauh dan berisiko untuk tetap bisa beraktivitas. Namun, jalur tersebut tidak mampu dilalui kendaraan besar dan sangat rentan membahayakan keselamatan.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran mendalam, mengingat jembatan Sungai Penganan selama ini menjadi satu-satunya “urat nadi” akses bagi ribuan penduduk. Pemerintah diharapkan segera merespons sebelum kondisi semakin parah dan menyebabkan desa-desa tersebut benar-benar terisolasi. (Bgs).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250 Example 728x250 Example 728x250