BeritaPolres MelawiWarta Melawi

Kapolres Melawi Rasakan Langsung Sensasi Panen Madu Kelulut di Ratu Madu Borneo

376
×

Kapolres Melawi Rasakan Langsung Sensasi Panen Madu Kelulut di Ratu Madu Borneo

Sebarkan artikel ini
Poto : Kapolres Melawi AKBP Harris Batara Simbolon, S.I.K., S.H., M.Tr.Opsla., menyedot langsung madu yang masih dalam sarang

Wartamelawi.com – Kapolres Melawi AKBP Harris Batara Simbolon, S.I.K., S.H., M.Tr.Opsla., didampingi Kasat Lantas Polres Melawi AKP Pipit Supriyatna, S.H., melakukan kunjungan ke penangkaran madu Trigona atau madu kelulut “Ratu Madu Borneo” yang berada di Desa Tanjung Lay Km 5, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Minggu (18/1/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Kapolres Melawi turut merasakan langsung pengalaman memanen madu kelulut, mulai dari proses penyedotan madu pada log sarang, hingga sensasi menyedot madu langsung dari sarang menggunakan pipa.

Kapolres Melawi mengapresiasi usaha peternakan madu Trigona atau madu kelulut, yang dalam istilah ilmiah dikenal sebagai lebah tanpa sengat (stingless bee), dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat. Ia menyampaikan komitmennya untuk mendukung pemanfaatan madu kelulut, khususnya bagi kesehatan personel Polres Melawi.

“Kami akan bekerja sama untuk mengonsumsi madu kelulut bagi anggota dan PJU Polres Melawi sebagai upaya meningkatkan kesehatan. Selain itu, kami juga akan membantu memasarkan madu kelulut ini melalui Koperasi Polres Melawi,” ujar AKBP Harris Batara Simbolon.

Ia menambahkan, pihaknya siap membantu pemasaran apabila produksi madu kelulut semakin meningkat.

“Apabila nanti panen semakin banyak, bisa didorong ke tempat kami agar anggota Polres Melawi dapat ikut mengonsumsi madu kelulut ini secara rutin,” tambahnya.

Pemilik peternakan Ratu Madu Borneo, H. Edward Ruslan Gea kerap disapa H. Edu, menjelaskan bahwa usaha ternak madu kelulut miliknya telah dirintis sejak tahun 2021. Usaha tersebut bermula dari kebutuhan pribadi untuk pengobatan.

“Awalnya saya fokus mengambil madu hanya untuk konsumsi sendiri sebagai pengobatan. Namun seiring waktu, saya merasa sayang dan melihat ada potensi besar untuk dikembangkan. Hingga saat ini, jumlah log sarang kelulut yang saya miliki sudah mencapai kurang lebih 200 log,” jelasnya.

H. Edu juga menceritakan pengalaman pribadinya merasakan manfaat madu kelulut bagi kesehatan, terutama saat dirinya menderita penyakit diabetes.

“Saya dulu mengidap diabetes. Selama lebih dari dua bulan saya hanya terbaring lemah. Salah satu pengobatan yang disarankan adalah mengonsumsi madu kelulut. Saat kondisi parah, saya minum madu kelulut tiga kali sehari, dua sendok makan setiap kali minum,” tuturnya.

“Dalam waktu sekitar satu minggu mengonsumsi secara rutin, kesehatan saya berangsur pulih. Bahkan penglihatan saya yang sebelumnya rabun kembali membaik dan saya bisa beraktivitas seperti biasa,” ungkapnya.

Saat ini, peternakan Ratu Madu Borneo fokus membudidayakan empat jenis kelulut, yaitu Thoracica, Itama, Apicalis, dan Caniforn.

“Sebenarnya jenis kelulut sangat banyak, bisa sampai belasan jenis. Namun saat ini kami fokus pada empat jenis tersebut,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa panen madu dilakukan setiap satu bulan sekali secara bergantian antar log sarang. Dalam satu bulan, produksi madu dapat mencapai 50 hingga 60 liter.

“Setiap log rata-rata menghasilkan setengah liter hingga satu liter madu. Untuk harga, madu jenis Trigona Itama dijual Rp300.000 per liter, sedangkan jenis Thoracica bisa mencapai Rp800.000 per liter,” jelasnya.

Tidak hanya diminati konsumen lokal, madu kelulut produksi Ratu Madu Borneo juga telah menembus pasar internasional.

“Konsumen kami ada yang berasal dari luar negeri seperti Australia dan Swedia yang sempat berkunjung langsung ke peternakan. Untuk dalam negeri, hampir dari seluruh Indonesia. Banyak yang mengetahui produk kami dari media sosial maupun rekomendasi dari mulut ke mulut,” ujarnya.

Meskipun telah berkembang cukup pesat, H. Edu mengaku hingga saat ini usaha ternaknya masih dikelola secara pribadi tanpa dukungan dari pemerintah.

“Sampai sekarang kami belum pernah mendapatkan dukungan dari pemerintah, baik berupa bantuan dana maupun pelatihan terkait budidaya madu kelulut,” ungkapnya.

Ia berharap ke depan ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap pengembangan peternakan madu kelulut di Kabupaten Melawi.

“Saya berharap pemerintah dapat memberikan perhatian dan dukungan, karena usaha ini sangat potensial untuk meningkatkan penghasilan masyarakat serta dapat menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) apabila dikelola dengan baik,” harapnya.

Untuk pemasaran madu kelulut jenis Itama, tersedia dalam beberapa ukuran kemasan. Kemasan 250 mililiter dijual dengan harga Rp100.000, kemasan 350 mililiter seharga Rp150.000, dan kemasan 460 mililiter dijual dengan harga Rp200.000. Harga tersebut berlaku untuk seluruh produk madu kelulut jenis Itama.

Sementara itu, untuk madu kelulut jenis Thoracica, harga jualnya lebih tinggi. Kemasan 250 mililiter dijual seharga Rp200.000, kemasan 350 mililiter seharga Rp300.000, dan kemasan 460 mililiter dijual dengan harga Rp400.000.

Menurutnya, perawatan lebah kelulut tergolong sangat mudah dan tidak memerlukan perlakuan khusus.

“Perawatannya tidak sulit, tidak ada teknik khusus ataupun pakan tambahan. Kelulut mencari makanannya sendiri secara alami dari bunga-bunga di sekitar lingkungan,” jelasnya.

Selain madu, produk lain yang dihasilkan adalah bee pollen atau serbuk sari bunga yang dibawa kelulut, yang juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.

Dengan adanya kunjungan Kapolres Melawi ini, diharapkan peternakan madu kelulut di Kabupaten Melawi semakin dikenal luas dan mampu berkembang menjadi salah satu potensi ekonomi unggulan daerah. (Bgs).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250 Example 728x250 Example 728x250