BeritaKubu RayaWarta Melawi

Kelompok 15 PPM FISIP UNTAN Wujudkan Bakti Nyata untuk Pendidikan Keagamaan di Pesisir

535
×

Kelompok 15 PPM FISIP UNTAN Wujudkan Bakti Nyata untuk Pendidikan Keagamaan di Pesisir

Sebarkan artikel ini

Wartamelawi.com, Kubu Raya – Pendidikan keagamaan nonformal seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) kerap luput dari perhatian publik dalam wacana pembangunan sumber daya manusia. Padahal, TPQ memiliki peran vital dalam pembentukan karakter anak sejak usia dini, terutama di wilayah pedesaan dan pesisir yang aksesnya terhadap pendidikan formal masih terbatas.

Salah satu contohnya dapat ditemukan di TPQ Miftahul Ulum, Desa Sungai Deras, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Di tempat inilah, Kelompok 15 Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura (FISIP UNTAN) melaksanakan kegiatan pengabdian mereka. Jumat (20/6/25).

Kelompok ini diketuai oleh Sukamto, dengan anggota Erdi, Isdairi, dan Ahirul Habib Padilah. Kegiatan mereka dilandasi oleh kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan keagamaan yang berjalan berkat semangat gotong royong dan ketulusan masyarakat.

“Kami melihat bagaimana TPQ di desa ini tetap hidup meskipun fasilitas terbatas dan para pengajarnya tidak menerima gaji. Inilah bentuk ketulusan yang luar biasa dan menjadi pelajaran bagi kami semua,” ujar Sukamto, Ketua Kelompok 15 PPM FISIP UNTAN.

TPQ Miftahul Ulum dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat dengan dukungan Pemerintah Desa. Meski sarana prasarana terbatas, kegiatan belajar mengaji tetap berjalan dengan semangat tinggi, mencerminkan ketahanan sosial yang sering luput dari sorotan publik.

“Kami tidak datang untuk memberi, tetapi untuk belajar dari semangat mereka. Di sini kami menyadari bahwa pendidikan bukan hanya soal ruang kelas dan kurikulum, tapi tentang hati dan kebersamaan,” tambah Erdi, salah satu anggota kelompok.

Kegiatan pengabdian ini juga menjadi refleksi bahwa pengabdian akademik seharusnya berpihak kepada masyarakat yang lemah dan terpinggirkan. Bagi mereka, pengabdian bukan sekadar program kerja kampus, melainkan bentuk tanggung jawab moral terhadap realitas sosial yang sering terabaikan.

“Kami berharap kehadiran kami bisa menjadi pengingat bahwa lembaga seperti TPQ adalah benteng moral bangsa. Sudah seharusnya semua pihak, termasuk kampus, pemerintah, dan organisasi masyarakat, turut memperkuat keberadaannya,” tutur Ahirul Habib Padilah.

Dari hasil pengamatan di lapangan, terlihat bahwa keberlangsungan TPQ sangat bergantung pada solidaritas sosial dan rasa tanggung jawab kolektif. Dukungan dari berbagai pihak diperlukan agar lembaga serupa tidak berjalan sendirian. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, pendidikan keagamaan tidak bisa dipisahkan dari upaya membangun masyarakat yang beradab, toleran, dan berakar spiritual kuat.

“Membangun bangsa bukan hanya tentang infrastruktur dan teknologi, tapi juga tentang merawat nilai. Dan nilai-nilai itu tumbuh di tempat sederhana seperti TPQ ini,” pungkas Sukamto.

Melalui kegiatan ini, Kelompok 15 PPM FISIP UNTAN menunjukkan bahwa pengabdian sejati tidak selalu harus besar dan gemerlap. Kadang, ia justru lahir dari kesederhanaan, dari ruang-ruang kecil tempat nilai dan moral bangsa disemai tanpa pamrih. (Bgs).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250 Example 728x250 Example 728x250