Wartamelawi.com, Kubu Raya – Desa Sungai Deras, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, menjadi lokasi pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) oleh Kelompok 2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura (UNTAN). Kegiatan ini berfokus pada implementasi program penanggulangan stunting sekaligus menggambarkan kondisi aktual pelaksanaan kebijakan kesehatan di tingkat desa. Jumat (20/6/25).
Kelompok 2 PPM FISIP UNTAN ini diketuai oleh Prof. Dr. H. Martoyo, M.A., bersama anggota tim Dr. Yulius Yohanes, M.Si., Dr. Julia Magdalena Wuysang, M.Si., dan Dhidik Aprianto, S.E., M.Si.. Program ini bertujuan memahami pelaksanaan kebijakan penanggulangan stunting di wilayah pedesaan serta merumuskan rekomendasi berbasis data untuk meningkatkan efektivitas program di lapangan.
Berdasarkan hasil temuan tim di lapangan, prevalensi stunting di Desa Sungai Deras mencapai 27 persen, sedikit lebih rendah dari rata-rata nasional sebesar 30,8 persen. Angka tersebut menunjukkan masih perlunya penguatan peran lintas sektor antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam menekan kasus stunting secara berkelanjutan.
Desa Sungai Deras memiliki satu Puskesmas Pembantu (Pustu) dan beberapa posyandu aktif yang menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. Namun, keterbatasan tenaga medis masih menjadi kendala utama dalam menjangkau seluruh warga desa. Selain itu, faktor geografis dan infrastruktur turut mempersulit pelaksanaan program kesehatan, karena sebagian wilayah sering terisolasi saat musim hujan akibat kerusakan jalan.
Meski demikian, semangat masyarakat untuk berpartisipasi dalam program kesehatan tetap tinggi. Pemerintah desa secara aktif mendukung kegiatan posyandu, penyuluhan gizi, dan kampanye pentingnya asupan makanan bergizi seimbang. Dukungan ini diperkuat melalui koordinasi antara Puskesmas, kader posyandu, dan perangkat desa yang terus ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Dalam pandangan Dr. Yulius Yohanes, M.Si., upaya penanggulangan stunting di wilayah pedesaan seperti Sungai Deras perlu mempertimbangkan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat setempat.
“Kita harus memperhatikan potensi pangan bergizi yang dikenal dan tersedia secara lokal. Banyak sumber gizi seperti ikan air tawar, sayuran kebun, dan hasil bumi lain yang sebenarnya kaya nutrisi dan mudah diakses masyarakat. Pendekatan berbasis kearifan lokal akan membuat program lebih relevan dan berkelanjutan,” jelas Dr. Yulius.
Sementara itu, Prof. Dr. H. Martoyo, M.A., menegaskan pentingnya partisipasi penuh masyarakat dalam setiap tahapan pelaksanaan program.
“Stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi persoalan sosial dan budaya. Karena itu, masyarakat harus dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi program. Dengan partisipasi yang kuat, masyarakat akan merasa memiliki dan turut menjaga keberlanjutan program,” ungkapnya.
Tim PPM Universitas Tanjungpura menilai bahwa pelaksanaan kebijakan di Desa Sungai Deras telah menunjukkan perkembangan positif, meskipun masih terdapat ruang perbaikan, terutama dalam hal peningkatan kapasitas sumber daya manusia, perbaikan infrastruktur kesehatan, serta penguatan strategi komunikasi antar pemangku kepentingan.
Dalam laporannya, tim merekomendasikan agar pemerintah daerah meningkatkan koordinasi lintas sektor, menambah fasilitas dan tenaga kesehatan, serta memperluas jangkauan layanan bagi ibu hamil dan balita di seluruh wilayah.
“Peningkatan fasilitas dan pelatihan tenaga kesehatan akan sangat membantu menurunkan angka stunting di daerah pedesaan,” tulis tim dalam laporan hasil kegiatan.
Melalui kegiatan ini, Universitas Tanjungpura kembali menunjukkan komitmen terhadap pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Program PPM yang dilakukan oleh Kelompok 2 di Desa Sungai Deras tidak hanya memperkaya wawasan akademik mahasiswa dan dosen, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat pedesaan di Kalimantan Barat. (Bgs).










