Berita MelawiBPBD MelawiKarhutlaWarta Melawi

Karhutla Melawi Kian Meluas, Sekitar 757 Hektare Lahan Terbakar di Delapan Desa

191
×

Karhutla Melawi Kian Meluas, Sekitar 757 Hektare Lahan Terbakar di Delapan Desa

Sebarkan artikel ini

Wartamelawi.com Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Melawi semakin meluas. Hingga Jumat (7/8/2026), berdasarkan laporan yang diterima BPBD Kabupaten Melawi, kebakaran telah terjadi di delapan desa dengan total luas lahan terbakar sekitar 757 hektare. Sejumlah titik masih mengalami kebakaran, sementara sebagian lokasi lainnya telah berhasil dipadamkan.

Delapan wilayah yang terdampak yakni Desa Nusa Kenyikap dan Desa Batu Ampar di Kecamatan Belimbing, Desa Tebing Karangan dan Desa Nanga Kayan di Kecamatan Nanga Pinoh, Desa Pelempai Jaya di Kecamatan Ella Hilir, Desa Pelinggang di Kecamatan Pinoh Selatan, Desa Kebebu di Kecamatan Nanga Pinoh, serta Desa Bloyang di Kecamatan Belimbing Hulu.

Kepala BPBD Kabupaten Melawi, Dr. Daniel, SP., M.M., melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Kabid KL) BPBD Kabupaten Melawi, Rahmad Mauludin, mengatakan kondisi karhutla saat ini cukup mengkhawatirkan karena masih terdapat sejumlah titik api yang aktif, terutama di kawasan perkebunan, semak belukar, hutan, serta lahan gambut.

“Karhutla saat ini sudah semakin meluas. Berdasarkan laporan yang kami terima, total luasan lahan yang terbakar di delapan desa mencapai sekitar 757 hektare. Beberapa lokasi sudah berhasil dipadamkan, tetapi di sejumlah titik api masih menyala dan terus membutuhkan penanganan,” ujar Rahmad Mauludin.

Ia merinci, Desa Nusa Kenyikap menjadi salah satu lokasi dengan dampak cukup luas, yakni sekitar 135 hektare. Sekitar 2 hektare telah berhasil dipadamkan, namun masih mengeluarkan asap dari sisa bara. Di Desa Tebing Karangan, lahan terbakar diperkirakan mencapai 55 hektare dan api telah padam. Sementara Desa Batu Ampar tercatat sekitar 7 hektare dan juga telah berhasil dipadamkan.

Di Desa Pelempai Jaya, Kecamatan Ella Hilir, luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 150 hektare dan api dilaporkan telah padam. Sedangkan di Desa Pelinggang, Kecamatan Pinoh Selatan, sekitar 10 hektare lahan terbakar dan api masih terus melebar memasuki kawasan perkebunan warga.

Kondisi cukup serius juga terjadi di Desa Nanga Kayan, Kecamatan Nanga Pinoh, dengan luas lahan terbakar sekitar 100 hektare. Api masih menyala karena kawasan yang terbakar merupakan lahan gambut, sehingga proses pemadaman membutuhkan penanganan khusus.

Sementara itu, di Desa Bloyang, Kecamatan Belimbing Hulu, luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 200 hektare. Api masih menyala dan telah membakar kawasan perkebunan warga. Adapun di Desa Kebebu, Kecamatan Nanga Pinoh, luas lahan terbakar diperkirakan sekitar 100 hektare.

Rahmad mengatakan, penanganan karhutla melibatkan berbagai unsur, di antaranya TRC-PB BPBD Melawi, Manggala Agni PONJA Melawi, Polres Melawi, Polsek Nanga Pinoh, KPH Melawi, pemerintah desa, serta masyarakat setempat.

“Tim di lapangan terus melakukan pemadaman, monitoring, dan penjagaan, terutama di daerah yang berdekatan dengan permukiman penduduk. Kami berupaya agar api tidak semakin meluas dan membahayakan masyarakat,” katanya.

Namun, upaya pemadaman menghadapi sejumlah kendala. Jarak lokasi yang cukup jauh dari pusat kabupaten, kondisi wilayah berupa perbukitan, minimnya sumber air, serta medan yang sulit dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat membuat penanganan dari darat menjadi tidak mudah.

“Kendala utama di lapangan adalah akses yang cukup jauh, medan yang berat, terutama di daerah perbukitan dan lahan gambut, serta keterbatasan sumber air. Karena itu, kebutuhan dukungan untuk penanganan karhutla semakin mendesak,” ungkap Rahmad.

BPBD Kabupaten Melawi kembali berharap adanya dukungan Satgas Udara untuk membantu pemadaman melalui operasi water bombing, terutama pada titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Selain itu, diperlukan sarana dan prasarana pemadaman tambahan untuk memperkuat penanganan di lapangan.

“Kami sangat berharap dukungan Satgas Udara untuk membantu pemadaman dari udara, khususnya pada lokasi yang sulit dijangkau tim darat. Water bombing sangat dibutuhkan untuk mempercepat pengendalian api dan mencegah kebakaran semakin meluas,” tegas Rahmad.

Hingga laporan ini disampaikan, tidak terdapat korban jiwa akibat kejadian tersebut. BPBD bersama unsur terkait masih melakukan pemantauan dan penanganan di sejumlah titik yang api masih aktif.

Rahmad juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Apabila menemukan titik api, segera laporkan kepada BPBD, pemerintah desa, kecamatan, maupun pihak kepolisian agar dapat segera ditangani. Pemerintah desa dan kecamatan juga diharapkan menyiapkan sarana pemadaman sebagai langkah antisipasi awal,” pungkasnya. (Bgs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250 Example 728x250 Example 728x250