Wartamelawi.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali melanda Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Hingga Rabu (12/8/2026), sedikitnya 219 hektare lahan terbakar di tiga lokasi, yakni Desa Pemuar Bukit Matok dan Desa Batu Nanta, Kecamatan Belimbing, serta Desa Nanga Kayan, Kecamatan Nanga Pinoh. Api di sejumlah titik masih menyala dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Kebakaran dilaporkan terjadi pada Rabu (12/8/2026) sekitar pukul 10.45 WIB dan informasinya diterima BPBD Kabupaten Melawi sekitar pukul 11.05 WIB. Laporan tersebut berasal dari kepala desa dan masyarakat setempat. Tim gabungan kemudian melakukan pemadaman dan monitoring di lokasi yang terdampak untuk mencegah kobaran api semakin meluas.
Kepala BPBD Kabupaten Melawi, Dr. Daniel, SP., M.M., melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Melawi, Rahmad Mauludin, mengatakan kebakaran terjadi dengan karakteristik lahan yang berbeda di masing-masing lokasi. Di Desa Pemuar Bukit Matok, api membakar semak belukar di kawasan perbukitan dengan luas sekitar 4 hektare. Sementara di Desa Batu Nanta, kebakaran menghanguskan sekitar 60 hektare semak belukar dan lahan gambut. Adapun di Desa Nanga Kayan, sekitar 155 hektare lahan gambut dilaporkan terbakar.
“Untuk Desa Pemuar Bukit Matok, luas lahan yang terbakar kurang lebih 4 hektare dan api masih menyala. Kemudian di Desa Batu Nanta sekitar 60 hektare, kondisinya masih terdapat api karena sebagian lahan merupakan gambut. Sedangkan di Desa Nanga Kayan luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 155 hektare dan api masih menyala,” ujar Rahmad Mauludin.
Dengan kondisi tersebut, total luas lahan yang terdampak kebakaran di tiga lokasi mencapai sekitar 219 hektare. Hingga laporan terakhir, belum terdapat korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, api yang masih aktif menjadi perhatian karena kondisi lahan yang kering dan sebagian berada di kawasan gambut dapat membuat kebakaran sulit dikendalikan serta berpotensi meluas.
“Penanganan terus kita lakukan bersama tim di lapangan. Kita juga melakukan monitoring untuk memastikan api tidak semakin meluas. Namun, kondisi lahan gambut memang menjadi salah satu tantangan karena api dapat bertahan dan kembali muncul dari bagian bawah permukaan,” jelas Rahmad.
Penanganan di lapangan melibatkan TRC-PB BPBD Melawi, Damkar Melawi, Satpol PP Kabupaten Melawi, Manggala Agni Posko Melawi dan PMI Kabupaten Melawi. Tim gabungan terus melakukan pemadaman sekaligus pemantauan terhadap wilayah yang berpotensi terdampak.
Rahmad mengungkapkan, proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala, terutama jarak lokasi yang cukup jauh dari pusat Kabupaten Melawi, minimnya sumber air serta kondisi medan yang sulit dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Situasi tersebut membuat penanganan melalui jalur darat tidak selalu dapat dilakukan secara maksimal.
“Kendala yang kita hadapi di lapangan antara lain jarak lokasi yang cukup jauh, sumber air yang terbatas dan medan kebakaran yang sulit dijangkau kendaraan. Karena itu, untuk lokasi-lokasi yang sulit ditangani dari darat, kami membutuhkan dukungan Satgas Water Bombing agar pemadaman dapat dilakukan lebih cepat dan efektif,” tegasnya.
Selain dukungan Satgas Water Bombing, BPBD Melawi juga membutuhkan tambahan sarana dan prasarana penanganan Karhutla untuk memperkuat operasi pemadaman di lapangan. Dukungan tersebut dinilai penting mengingat titik kebakaran tersebar di sejumlah wilayah dan sebagian berada pada medan perbukitan maupun lahan gambut.
Di tengah meningkatnya ancaman Karhutla, BPBD Kabupaten Melawi mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api kepada BPBD, pemerintah desa, kecamatan maupun aparat kepolisian.
Rahmad juga meminta pemerintah kecamatan dan desa berperan aktif memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya Karhutla serta menyiapkan sarana pemadam sebagai langkah antisipasi awal. Menurutnya, pencegahan dan deteksi dini sangat penting untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih besar.
“Kami mengimbau masyarakat agar bersama-sama mencegah terjadinya Karhutla. Jangan melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Jika menemukan titik api, segera laporkan agar bisa ditangani sedini mungkin sebelum api meluas,” pungkas Rahmad.
BPBD Kabupaten Melawi memastikan pemantauan dan penanganan akan terus dilakukan bersama seluruh unsur terkait. Kondisi cuaca kemarau, keterbatasan sumber air serta karakteristik lahan gambut menjadi faktor yang perlu diwaspadai agar kebakaran tidak semakin meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat maupun lingkungan. (Bgs).














