Wartamelawi.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Hingga Sabtu (29/8/2026) malam, sedikitnya lima desa di empat kecamatan terdampak kebakaran dengan total luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 463,608 hektare.
Informasi mengenai kejadian tersebut diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Melawi pada Sabtu (29/8/2026) sekitar pukul 11.45 WIB. Laporan berasal dari kepala desa dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Kepala BPBD Kabupaten Melawi, Dr. Daniel, SP., M.M., M.Pd.K., melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Kabid KL) BPBD Kabupaten Melawi, Rahmad Mauludin, mengatakan bahwa kebakaran terjadi di Desa Nanga Kayan dan Batu Nanta, Desa Kenual, Desa Manggala, serta Desa Manding.
“Kami menerima informasi Karhutla dari laporan kepala desa dan masyarakat pada Jumat sekitar pukul 11.45 WIB. Setelah menerima laporan, tim langsung melakukan pemadaman dan monitoring di sejumlah titik yang terdampak,” ujar Rahmad Mauludin, mewakili Kepala BPBD Kabupaten Melawi.
Kelima lokasi tersebut tersebar di beberapa kecamatan. Karhutla terjadi di Desa Nanga Kayan dan Desa Kenual, Kecamatan Nanga Pinoh; Desa Batu Nanta, Kecamatan Belimbing; Desa Manggala, Kecamatan Pinoh Selatan; serta Desa Manding, Kecamatan Pinoh Utara.
Di Desa Nanga Kayan, kebakaran menghanguskan lahan gambut dengan luas diperkirakan mencapai 227 hektare. Hingga laporan terakhir, api masih menyala dan terus menyebar karena karakteristik lahan gambut yang membuat api sulit dipadamkan secara tuntas.
Kondisi serupa terjadi di Desa Batu Nanta, Kecamatan Belimbing. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 134 hektare, dengan api masih menyala dan menyebar di kawasan gambut.
Sementara itu, di Desa Kenual, Kecamatan Nanga Pinoh, lahan yang terbakar diperkirakan sekitar 0,608 hektare. Meski api tidak lagi terlihat besar, kawasan tersebut masih mengeluarkan asap karena material yang terbakar merupakan lahan gambut.
“Untuk Nanga Kayan dan Batu Nanta, kendala utama adalah kawasan yang terbakar merupakan lahan gambut. Api bisa berada di dalam lapisan gambut sehingga pemadaman membutuhkan waktu dan penanganan yang lebih intensif,” jelas Rahmad.
Karhutla juga terjadi di Desa Manggala, Kecamatan Pinoh Selatan. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 52 hektare, meliputi semak belukar dan kawasan hutan adat. Api dilaporkan terus menjalar mendekati perkebunan warga.
Bahkan, hingga sekitar pukul 21.12 WIB, kondisi di Desa Manggala masih perlu mendapat perhatian serius karena api dilaporkan terus membesar.
“Di Desa Manggala, kawasan yang terbakar meliputi hutan adat dan perkebunan warga. Sampai pukul 21.12 WIB, api masih membesar dan terus menjalar ke arah perkebunan masyarakat,” ungkapnya.
Kondisi tidak jauh berbeda terjadi di Desa Manding, Kecamatan Pinoh Utara. Kebakaran diperkirakan telah menghanguskan sekitar 50 hektare lahan yang terdiri atas gambut, semak belukar, dan lahan perkebunan warga. Api masih menyala dan berpotensi terus menjalar ke areal perkebunan.
Dalam penanganan sementara, Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Kabupaten Melawi telah diterjunkan untuk melakukan pemadaman sekaligus pemantauan terhadap perkembangan api di lokasi kejadian.
Namun, upaya pemadaman menghadapi sejumlah kendala. Selain jarak lokasi yang cukup jauh dari pusat Kabupaten Melawi, medan menuju beberapa titik kebakaran juga sulit dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
“Jarak tempuh menjadi salah satu kendala karena beberapa lokasi cukup jauh dari pusat kabupaten. Selain itu, medan yang terbakar sulit dilalui kendaraan, baik roda empat maupun roda dua, sehingga mobilisasi personel dan peralatan menjadi terbatas,” kata Rahmad.
Minimnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran juga menjadi persoalan dalam proses pemadaman. Kondisi tersebut semakin menyulitkan penanganan, khususnya pada kawasan gambut yang membutuhkan pasokan air secara terus-menerus.
BPBD Kabupaten Melawi menyebut kebutuhan mendesak saat ini adalah dukungan Satuan Tugas (Satgas) Water Bombing serta sarana dan prasarana (sarpas) untuk penanganan Karhutla.
“Kami membutuhkan dukungan Satgas Water Bombing dan sarana prasarana penanganan Karhutla, terutama untuk lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat dan kawasan yang api masih terus menyebar,” tegasnya.
BPBD memastikan pemantauan dan upaya pemadaman terus dilakukan sesuai kondisi di lapangan. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian Karhutla di lima desa tersebut.
Di sisi lain, BPBD mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Pemerintah kecamatan dan desa juga diminta aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya kebakaran, terutama terkait aktivitas pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara dibakar.
“Dengan kondisi cuaca yang masih memasuki musim kemarau, kami mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati apabila melakukan pembukaan atau pembersihan lahan. Jika memang melakukan pembakaran, harus benar-benar dikendalikan dan dilaporkan kepada pihak terkait, termasuk BPBD, pemerintah desa, kecamatan maupun Polsek setempat,” jelas Rahmad.
Selain itu, pemerintah kecamatan dan desa diharapkan menyiapkan peralatan pemadam kebakaran sederhana sebagai langkah antisipasi awal apabila terjadi kebakaran di wilayah masing-masing.
BPBD Kabupaten Melawi menekankan bahwa pencegahan menjadi langkah penting untuk mencegah kebakaran meluas, mengingat kondisi lahan yang kering serta sebagian wilayah terdampak merupakan kawasan gambut, hutan adat, semak belukar dan perkebunan masyarakat.
Dengan luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 463,608 hektare di lima desa, penanganan Karhutla membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, aparat, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan agar kebakaran tidak semakin meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar. (Bgs).
















