Wartamelawi.com – Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terus dilakukan jajaran Koramil 1205-01/Nanga Pinoh bersama Polsek Nanga Pinoh dan masyarakat. Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, petugas melaksanakan penanganan Karhutla mulai pukul 18.25 hingga 21.15 WIB di sejumlah wilayah Kecamatan Nanga Pinoh dan Pinoh Utara, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Berdasarkan hasil pemantauan dan groundcheck di lapangan, tercatat 34 titik hot spot/kebakaran, terdiri dari 3 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi 60–80 persen dan 31 titik dengan tingkat kepercayaan sedang 50–60 persen.
Tiga titik dengan tingkat kepercayaan tinggi seluruhnya ditemukan di Desa Engkurai, Kecamatan Pinoh Utara. Ketiga titik tersebut berada pada koordinat 112.0548, -0.2912; 112.0461, -0.2899; dan 112.0460, -0.2940. Luasan lahan yang terbakar tersebar dengan perkiraan masing-masing sekitar 4 hingga 6,8 hektare.
Sementara itu, 31 titik dengan tingkat kepercayaan sedang tersebar di dua kecamatan. Di Kecamatan Nanga Pinoh terdapat 15 titik, masing-masing di Desa Tembawang Panjang sebanyak 1 titik, Desa Nanga Kayan 6 titik, Desa Nusa Pandau 6 titik dan Desa Poring 2 titik.
Di Desa Tembawang Panjang, lahan terbakar diperkirakan mencapai sekitar 1 hingga 1,4 hektare. Desa Nanga Kayan memiliki enam titik dengan luasan masing-masing sekitar 1 hingga 2 hektare. Kemudian Desa Nusa Pandau terdapat enam titik dengan perkiraan luasan masing-masing 1,2 hingga 2,3 hektare, sedangkan Desa Poring dua titik dengan luasan masing-masing sekitar 1,1 hingga 1,8 hektare.
Sedangkan di Kecamatan Pinoh Utara terdapat 19 titik dengan sebaran di Desa Engkurai sebanyak 8 titik, Desa Sungai Pinang 6 titik dan Desa Merpak 2 titik berdasarkan rincian lokasi yang dilaporkan di lapangan. Luasan lahan pada titik-titik tersebut bervariasi, mulai sekitar 0,8 hektare hingga 2,4 hektare pada masing-masing area.
Danramil 1205-01/Nanga Pinoh, Kapten Inf. H. Didik Heru Pamungkas, mengatakan personel gabungan langsung melakukan pengecekan dan penanganan terhadap titik-titik kebakaran yang terdeteksi.
“Kami bersama unsur terkait terus melakukan groundcheck terhadap titik hotspot yang terdeteksi. Api yang masih menyala langsung kami lakukan pemadaman dan setelah itu kami pastikan kembali agar tidak ada bara atau api yang berpotensi menyala kembali,” ujar Kapten Inf. H. Didik Heru Pamungkas. Sabtu (22/08/2026).
Dalam kegiatan pemadaman, personel melakukan penanganan di tujuh desa. Di Desa Tembawang Panjang, Kecamatan Nanga Pinoh, satu titik berhasil dipadamkan dengan luas lahan sekitar 1,3 hektare. Di Desa Nanga Kayan, enam titik dengan luas sekitar 5,7 hektare yang tersebar berhasil ditangani.
Selanjutnya, pemadaman dilakukan di Desa Nusa Pandau sebanyak enam titik dengan luas sekitar 6,4 hektare, Desa Poring sebanyak dua titik dengan luas sekitar 3,2 hektare, Desa Engkurai sebanyak 11 titik dengan luas sekitar 10,2 hektare, Desa Sungai Pinang enam titik dengan luas sekitar 5,8 hektare, serta Desa Merpak dua titik dengan luas sekitar 2,6 hektare.
Kapten Inf. Didik menjelaskan, kegiatan penanganan Karhutla melibatkan empat anggota Koramil 1205-01/Nanga Pinoh, dua anggota Polsek Nanga Pinoh dan dua warga setempat.
“Penanganan Karhutla tidak bisa dilakukan sendiri. Kami melibatkan unsur kepolisian dan masyarakat setempat untuk mempercepat proses pemadaman sekaligus memastikan kondisi di lapangan benar-benar aman,” katanya.
Selain melakukan pemadaman, petugas juga berkoordinasi dengan instansi terkait dan melakukan pemantauan terhadap aktivitas masyarakat, khususnya kegiatan pembukaan lahan dengan cara dibakar.
“Kami juga mengawasi aktivitas masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar. Kami memberikan pemahaman bahwa pembakaran lahan dapat menimbulkan kebakaran yang berkelanjutan, menghasilkan asap dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat maupun aktivitas penerbangan,” tegasnya.
Menurutnya, upaya pencegahan menjadi bagian penting dalam penanggulangan Karhutla. Karena itu, masyarakat terus diberikan sosialisasi agar membuka lahan untuk berkebun dan bercocok tanam dengan cara yang tidak menggunakan pembakaran.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Mari bersama-sama mencegah Karhutla karena dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat,” ungkap Kapten Inf. H. Didik Heru Pamungkas.
Petugas juga berupaya mencari pemilik atau pengelola lahan yang terbakar untuk diberikan pemahaman mengenai bahaya dan dampak pembakaran lahan. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Berdasarkan hasil penanganan hingga Sabtu malam, seluruh lahan yang menjadi sasaran pemadaman dilaporkan sudah berhasil dipadamkan. Petugas tetap melakukan pemantauan untuk memastikan tidak terdapat bara api yang kembali menyala.
Danramil 1205-01/Nanga Pinoh menegaskan bahwa kewaspadaan terhadap Karhutla harus terus ditingkatkan, terutama ketika ditemukan titik panas di sejumlah wilayah.
“Situasi saat ini api sudah dapat dipadamkan. Namun kami tetap mengingatkan seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kebakaran lahan agar dapat ditangani sedini mungkin,” pungkasnya. (Bgs).
















