BPBD KalbarKalbarKarhutlaPontianakWarta Melawi

Dampak Karhutla: 1,9 Juta Warga Kalbar Terdampak, Status Tanggap Darurat Diperpanjang Hingga 6 September

34
×

Dampak Karhutla: 1,9 Juta Warga Kalbar Terdampak, Status Tanggap Darurat Diperpanjang Hingga 6 September

Sebarkan artikel ini

Wartamelawi.com, Pontianak – Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat masih berdampak luas terhadap masyarakat. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 29 Agustus 2026 pukul 15.00 WIB, sebanyak 1.946.923 jiwa penduduk di 14 kabupaten/kota terdampak kabut asap.

“Data ini menjadi dasar kita untuk terus memperkuat penanganan di lapangan. Prioritas utama tetap pemadaman, pencegahan, dan perlindungan kesehatan masyarakat,” ujar Koordinator Harian Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Kalimantan Barat, Daniel, SE.,S.Pd. Selasa (01/09/2026).

Dari total terdampak tersebut, tercatat 1 orang meninggal dunia atas nama Taufik di Desa Pelang, Kabupaten Ketapang. Kemudian 1 orang mengalami luka ringan atas nama Sugianto di Kabupaten Kubu Raya. Untuk kasus kesehatan, sebanyak 9.479 orang menjalani rawat jalan ISPA. Tertinggi berada di Kabupaten Kapuas Hulu 7.165 orang, Kota Singkawang 1.243 orang, Kabupaten Melawi 551 orang, Kabupaten Bengkayang 478 orang, dan Kabupaten Mempawah 92 orang.

Wilayah dengan jumlah penduduk terdampak tertinggi yakni Kota Pontianak 689.581 jiwa, Kabupaten Kubu Raya 425.072 jiwa, dan Kabupaten Ketapang 378.981 jiwa.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat masih memberlakukan Status Tanggap Darurat Bencana Kabut Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan melalui SK BPBD Provinsi Kalbar Nomor 905/BPBD/2026. Status tersebut berlaku sejak 24 Agustus 2026 sampai dengan 6 September 2026 dan dapat diperpanjang sesuai situasi di lapangan. Sebelumnya, Status Siaga Darurat telah ditetapkan melalui SK Nomor 97/BPBD/2026 terhitung sejak 2 Februari 2026 sampai 15 November 2026.

“Status tanggap darurat ini kita perpanjang untuk memastikan seluruh upaya penanganan di lapangan berjalan cepat, terpadu, dan terukur. Fokus utama kita adalah pemadaman, pencegahan, dan perlindungan masyarakat dari dampak kabut asap,” tegas Daniel.

Berdasarkan Laporan Harian Posko Tanggap Darurat 31 Agustus 2026, BPBD mencatat total 14.488 personel Satgas Darat yang terlibat di seluruh Kalimantan Barat. Personel tersebut berasal dari BPBD Provinsi dan Kabupaten/Kota sebanyak 330 orang, Kodam XII/Tanjungpura 4.114 orang, Polda Kalbar 2.285 orang, Manggala Agni 283 orang, DLHK 255 orang, Masyarakat Peduli Api 2.100 orang, Perusahaan 3.181 orang, serta unsur TNI AL, TNI AU, Satpol PP dan unsur lainnya. “Sinergitas ini penting. Tanpa dukungan TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, perusahaan, dan masyarakat, penanganan tidak akan seefektif ini,” kata Daniel.

Di tingkat kabupaten dan kota, sejumlah daerah juga telah menetapkan status tanggap darurat. Kabupaten Melawi melalui SK Nomor 300.2/142 Tahun 2026 dengan masa berlaku 17 Juli sampai dengan 1 Oktober 2026. Daerah lain yang telah menetapkan status serupa yakni Kabupaten Kubu Raya, Sintang, Kayong Utara, dan Sanggau.

Satgas Darat BPBD Provinsi Kalimantan Barat pada Senin 31 Agustus 2026 memfokuskan operasi pemadaman di Dusun Teluk Lais atau Lintang Batang, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya dengan luas lahan terbakar mencapai ± 10 hektare. “Hasil briefing pagi, tim gabungan dari BPBD Provinsi Kalbar, Kodaeral, Satpol PP, Manggala Agni, Kodam, Polda, KPH, SMP Bruder, SMP 3 Terentang dan relawan masyarakat diterjunkan sejak pukul 08.00 WIB. Alhamdulillah luas yang berhasil dipadamkan dan dilakukan pemblokiran ± 2 hektare, namun kondisi lahan masih berasap,” jelas Daniel.

Selain pemadaman, BPBD Provinsi juga melakukan pembagian 1.000 keping masker kepada masyarakat mulai pukul 10.00 WIB di tiga titik, yaitu Jalan Adisucipto depan Kantor BPBD Provinsi Kalbar, Simpang Kantor Satuan Brimob Polda Kalbar, dan Area Bundaran Untan. Kegiatan serupa juga masif dilakukan di kabupaten. Di Kabupaten Melawi, pemadaman dan patroli dilakukan di Desa Nanga Kayan, Batu Nanta, Manggala, Manding, dan Menukung. Sementara Polres Melawi mencatat 58 titik pemadaman di 8 kecamatan. “Cuaca masih sangat kering. Titik api masih muncul di beberapa kabupaten. Karena itu patroli dan operasi pemadaman terus kita intensifkan 24 jam,” tegasnya.

Pemerintah Pusat melalui BNPB juga memberikan dukungan berupa 2 unit helikopter dan Pesawat Cessna Grand Caravan untuk patroli udara, serta 5 unit helikopter water bombing. Kementerian Pertahanan menambah 2 unit helikopter water bombing, Mabes TNI 2 unit, dan TNI AU 1 unit Pesawat Cassa NC-212i untuk Operasi Modifikasi Cuaca. “Dukungan udara ini sangat membantu untuk titik-titik api di lokasi yang sulit dijangkau tim darat. Kita manfaatkan maksimal agar asap tidak semakin meluas,” ujar Daniel. (Bgs).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250Example 728x250