Wartamelawi.com, Pontianak – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi perhatian serius di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat bersama Satgas Darat dan Satgas Udara terus melakukan pemantauan, patroli, pemadaman hingga pendinginan untuk mencegah kebakaran meluas.
Berdasarkan Briefing Malam BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Kamis (20/8/2026), di Kantor Pusdalops PB BPBD Prov. Kalbar, operasi penanganan Karhutla dilakukan melalui berbagai strategi, termasuk patroli udara menggunakan pesawat dan helikopter serta operasi water bombing di sejumlah lokasi yang membutuhkan penanganan.
Daniel, SE., S.Pd., Koordinator Harian Pusat Pengendali Operasi Penanggulanan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Provinsi Kalimantan Barat, mengatakan pemantauan dari udara menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui kondisi lapangan sekaligus mendukung percepatan penanganan titik panas maupun kebakaran yang ditemukan.
“Patroli udara menjadi bagian penting dalam upaya pemantauan Karhutla. Dari udara kita dapat melihat kondisi wilayah secara lebih luas dan mengidentifikasi lokasi yang membutuhkan tindak lanjut dari tim di lapangan,” ujar Daniel. Kamis (10/08/2026) malam, saat dihubungi wartawan Wartamelawi.com.
Dalam patroli udara dari Pontianak, pesawat Cessna Grand Caravan 208B registrasi PK-SNK melakukan pemantauan di sejumlah wilayah, meliputi Kabupaten Kubu Raya, Mempawah, Bengkayang, Kota Singkawang, Sambas, Landak, Sanggau, Sekadau, Sintang hingga Kabupaten Melawi.
Untuk Kabupaten Melawi, hasil pemantauan mencatat sejumlah lokasi menjadi sasaran patroli, di antaranya Kecamatan Ella Hilir, Kecamatan Menukung dan Kecamatan Belimbing. Lokasi Ella Hilir dan Batu Buil, Kecamatan Belimbing, tercatat memiliki indikasi hotspot, sedangkan wilayah Lihai, Kecamatan Menukung, tercatat nihil hotspot.
Daniel menegaskan, setiap temuan dari patroli udara perlu ditindaklanjuti dengan pengecekan di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
“Informasi dari patroli udara akan menjadi bahan untuk koordinasi dengan Satgas Darat. Yang terpenting adalah memastikan setiap titik yang terindikasi terbakar dapat segera dicek dan ditangani sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” katanya.
Selain patroli udara, BPBD Kalbar juga terus mengoperasikan armada water bombing. Sejumlah helikopter dikerahkan untuk menjatuhkan air ke lokasi kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat maupun membutuhkan penanganan cepat dari udara.
Helikopter Super Puma H225 registrasi VH-HGM tercatat telah melakukan 23 sorti dengan 525 kali bombing dan total sekitar 2,1 juta liter air. Sementara Helikopter Sikorsky UH-60L registrasi VH-L6T mencatat 15 sorti dengan 585 bombing dan total sekitar 2,34 juta liter air.
Operasi water bombing juga dilakukan menggunakan Helikopter Sikorsky EH-60A registrasi N61AA di wilayah Kabupaten Ketapang. Pada kegiatan yang tercatat dalam briefing, armada tersebut melakukan 59 bombing dengan total 236 ribu liter air dalam dua sorti. Secara akumulatif, armada itu telah melakukan 912 bombing dengan total 3,648 juta liter air.
Sementara Helikopter MI-172 registrasi VN-8424 juga melakukan operasi water bombing di wilayah Kubu Raya. Dalam kegiatan tersebut tercatat 82 bombing dengan total 328 ribu liter air dalam dua sorti.
Meski operasi pemadaman dari udara terus dilakukan, sejumlah lokasi masih dilaporkan mengeluarkan asap setelah penyiraman. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan tidak cukup hanya dengan menjatuhkan air dari udara, tetapi juga membutuhkan pemadaman dan pendinginan secara menyeluruh di darat.
“Water bombing membantu mempercepat penanganan, tetapi setelah penyiraman tetap diperlukan pengecekan dan pendinginan di lapangan. Ini penting untuk memastikan tidak ada bara atau sumber api yang kembali menyala,” jelas Daniel.
Data BPBD juga mencatat luasan lahan yang telah menjadi sasaran operasi pemadaman udara. Helikopter Super Puma H225 menangani area terbakar sekitar 330 hektare dengan sekitar 127 hektare telah dipadamkan. Helikopter Sikorsky UH-60L menangani sekitar 110,5 hektare dengan sekitar 52,5 hektare telah dipadamkan.
Sementara itu, Helikopter Sikorsky EH-60A menangani sekitar 77 hektare lahan terbakar dengan sekitar 34 hektare telah dipadamkan. Helikopter MI-172 menangani sekitar 39,5 hektare dengan sekitar 17 hektare telah dipadamkan, sedangkan Helikopter MI-17-1V menangani sekitar 53 hektare dengan sekitar 20 hektare telah dipadamkan.
Armada lainnya, Helikopter Sikorsky UH-60A registrasi N60CU, tercatat menangani sekitar 226,3 hektare lahan terbakar dengan sekitar 177,5 hektare telah dipadamkan. Helikopter AS 350B3e registrasi PK-DBM menangani sekitar 25,5 hektare lahan terbakar dengan sekitar 17 hektare telah dipadamkan.
Penanganan Karhutla tidak hanya mengandalkan kekuatan udara. Satgas Darat yang terdiri dari berbagai unsur juga terus melakukan pemadaman, pendinginan, patroli dan groundcheck terhadap lokasi yang terindikasi mengalami kebakaran.
Manggala Agni, misalnya, melaksanakan pemadaman di sejumlah lokasi di Kabupaten Sambas, Kubu Raya, Sekadau, Sanggau dan Mempawah. Sementara unsur Polda Kalbar juga melakukan groundcheck terhadap hotspot atau firespot di wilayah Kabupaten Sintang dan Bengkayang.Daniel mengatakan, sinergi antara Satgas Udara dan Satgas Darat menjadi kunci dalam menghadapi Karhutla, terutama di lokasi yang memiliki kondisi medan sulit.
“Penanganan Karhutla membutuhkan kerja bersama. Satgas Udara melakukan pemantauan dan membantu pemadaman dari udara, sementara tim di darat melakukan pengecekan, pemadaman dan pendinginan. Keduanya harus berjalan secara terpadu,” tegasnya.
BPBD Kalbar juga mengingatkan operator helikopter patroli dan water bombing agar memperhatikan keberadaan petani, penjaga lahan maupun gubuk atau pondok sebelum menjatuhkan air. Masyarakat dan petani yang menggarap lahan terbuka juga diimbau memasang patok bendera di empat sudut lahan agar lokasi aktivitas masyarakat dapat terlihat dari udara.
Menurut Daniel, partisipasi masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah munculnya kebakaran baru. Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api dan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga lahan dan lingkungan. Jangan melakukan pembakaran yang berpotensi menimbulkan Karhutla. Kalau menemukan titik api, segera laporkan agar dapat ditindaklanjuti sedini mungkin,” pungkas Daniel.
Dengan masih berlangsungnya pemantauan dan penanganan di berbagai daerah, BPBD Kalbar memastikan operasi pengendalian Karhutla terus dilakukan sesuai kondisi lapangan. Patroli udara, water bombing, groundcheck, pemadaman dan pendinginan menjadi bagian dari langkah terpadu untuk menekan risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat. (Bgs).
















