Wartamelawi.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Melawi terus menjadi perhatian serius. Hingga Selasa (4/8/2026), sekitar 90 hektare lahan dilaporkan terbakar di dua kecamatan, yakni Kecamatan Ella Hilir dan Kecamatan Belimbing. Kobaran api masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya akibat musim kemarau, angin kencang, minimnya sumber air, serta sulitnya akses menuju lokasi kebakaran.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Melawi menerima laporan pertama dari masyarakat pada Jumat (31/7/2026) sekitar pukul 17.20 WIB. Saat itu api telah membesar dan mulai merambat ke kawasan perkebunan milik warga.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Kabid KL) BPBD Kabupaten Melawi, Rahmad Mauludin, mengatakan masyarakat sempat berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya. Namun, kondisi cuaca yang kering disertai angin cukup kencang membuat api dengan cepat menjalar ke lahan-lahan di sekitarnya.
“Berdasarkan laporan masyarakat, kebakaran mulai terlihat ketika api sudah membesar dan mengarah ke kawasan perkebunan milik warga. Masyarakat sempat berupaya melakukan pemadaman menggunakan peralatan seadanya, namun karena kondisi cuaca yang kering disertai angin cukup kencang, api dengan cepat merambat ke lahan lainnya,” ujar Rahmad. Selasa (4/8/2026).
Rahmad menjelaskan, titik kebakaran terbesar berada di Desa Pelempai Jaya, Kecamatan Ella Hilir, meliputi Dusun Pelempai, Dusun Karangan Taman, dan Dusun Tanjung Sintarum. Berdasarkan hasil pemantauan sementara, luas lahan yang terbakar di wilayah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 80 hektare dengan vegetasi yang didominasi perkebunan karet, kebun kelapa sawit, dan semak belukar.
Sementara itu, kebakaran juga terjadi di wilayah Kayu Bunga, Desa Nusa Kenyikap, Kecamatan Belimbing, dengan luas lahan terdampak diperkirakan sekitar 10 hektare. Dengan demikian, total luas lahan yang terbakar di dua lokasi tersebut mencapai sekitar 90 hektare.
“Hingga hari keempat, api di Desa Pelempai Jaya masih menyala dan belum dapat dipadamkan secara menyeluruh. Luas lahan yang terdampak diperkirakan sekitar 80 hektare, sementara di Desa Nusa Kenyikap sekitar 10 hektare. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun api masih terus meluas sehingga memerlukan penanganan segera,” jelasnya.
Upaya pemadaman di Desa Pelempai Jaya dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah desa, masyarakat, personel Polsek Ella Hilir, dan Koramil Ella Hilir yang terus berupaya mengendalikan api agar tidak meluas ke kawasan perkebunan maupun permukiman warga.
Sementara itu, penanganan kebakaran di wilayah Kayu Bunga, Desa Nusa Kenyikap, dilakukan secara terpadu oleh tim Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), bersama unsur terkait. BPBD Kabupaten Melawi juga terus melakukan koordinasi lintas instansi untuk memastikan penanganan di kedua lokasi berjalan optimal.
“Untuk lokasi di Kayu Bunga, Desa Nusa Kenyikap, penanganan dilakukan oleh rekan-rekan Manggala Agni, KPH, bersama unsur terkait. Kami terus berkoordinasi agar upaya pemadaman di lapangan berjalan maksimal dan penyebaran api dapat segera dikendalikan,” kata Rahmad.
Meski demikian, proses pemadaman di kedua lokasi masih menghadapi berbagai kendala. Selain jarak lokasi kebakaran yang cukup jauh dari pusat Kabupaten Melawi, petugas juga dihadapkan pada keterbatasan sumber air, medan yang sulit dijangkau kendaraan roda dua maupun roda empat, serta kondisi cuaca yang masih kering disertai angin kencang sehingga mempercepat penyebaran api.
Melihat kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Melawi telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Kalimantan Barat untuk meminta dukungan Tim Satgas Udara dalam pelaksanaan operasi water bombing. Bantuan tersebut dinilai sangat dibutuhkan untuk mempercepat pengendalian kebakaran, terutama pada titik-titik api yang sulit dijangkau oleh personel darat.
“Kondisi geografis menjadi tantangan utama dalam penanganan karhutla kali ini. Akses menuju lokasi cukup jauh, sumber air sangat terbatas, dan sebagian besar titik api berada di medan yang sulit dijangkau. Oleh karena itu, kami telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Kalimantan Barat untuk meminta dukungan Tim Satgas Udara melakukan operasi water bombing agar kebakaran dapat segera dikendalikan dan tidak semakin meluas,” ungkap Rahmad.
Hingga saat ini, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat kebakaran tersebut. Namun, BPBD mengingatkan bahwa potensi meluasnya kebakaran masih cukup tinggi selama musim kemarau berlangsung. Pemerintah desa bersama masyarakat dan seluruh unsur terkait terus melakukan pemantauan di lapangan untuk mencegah api menjalar ke kawasan perkebunan maupun permukiman warga.
BPBD Kabupaten Melawi mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas, merusak lingkungan, serta mengancam keselamatan masyarakat.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Apabila membuka lahan, lakukan dengan cara yang aman dan sesuai ketentuan. Jika menemukan titik api, segera laporkan kepada BPBD, pemerintah desa, pemerintah kecamatan maupun aparat kepolisian agar dapat segera ditangani sebelum meluas,” tegas Rahmad.
Selain itu, BPBD juga meminta pemerintah kecamatan dan pemerintah desa untuk terus meningkatkan sosialisasi mengenai bahaya karhutla, memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, serta menyiapkan sarana dan prasarana pemadaman sebagai langkah antisipasi selama musim kemarau. Sinergi antara pemerintah, TNI-Polri, instansi teknis, dunia usaha, relawan, dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menekan risiko kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Melawi. (Bgs).













