Wartamelawi.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terdeteksi di sejumlah wilayah Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Sebanyak 32 titik kebakaran dengan tingkat sedang 50–60 persen ditemukan dalam kegiatan penanggulangan Karhutla yang dilakukan jajaran Koramil 1205-01/Nanga Pinoh, Senin (24/08/2026).
Kegiatan penanganan berlangsung mulai pukul 20.00 hingga 22.15 WIB. Puluhan titik tersebut tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Nanga Pinoh, Kecamatan Pinoh Utara dan Kecamatan Pinoh Selatan.
Danramil 1205-01/Nanga Pinoh, Kapten Inf. H. Didik Heru Pamungkas, mengatakan pihaknya bersama personel terkait langsung melakukan groundcheck terhadap titik-titik panas yang terdeteksi untuk memastikan kondisi di lapangan sekaligus melakukan pemadaman.
“Kami melaksanakan groundcheck ke daerah yang terdapat titik hotspot. Apabila ditemukan api yang masih menyala, langsung dilakukan pemadaman dan dipastikan api benar-benar sudah padam,” ujar Kapten Inf. H. Didik Heru Pamungkas.
Di Kecamatan Nanga Pinoh, Karhutla terdeteksi sebanyak dua titik di Desa Nanga Kayan. Area lahan yang ditangani diperkirakan mencapai sekitar 3,4 hektare.
Sementara di Kecamatan Pinoh Utara terdapat 13 titik, masing-masing tersebar di Desa Kompas Raya satu titik, Desa Engkurai tujuh titik, Desa Manding dua titik dan Desa Merpak dua titik. Dari penanganan di lokasi tersebut, luas lahan yang dipadamkan diperkirakan mencapai sekitar 19,9 hektare.
Karhutla juga ditemukan di Kecamatan Pinoh Selatan dengan total 17 titik. Titik kebakaran tersebut tersebar di Desa Sungai Bakah satu titik, Desa Manggala 11 titik dan Desa Nyanggai enam titik. Luas lahan yang dilakukan pemadaman di tiga desa tersebut diperkirakan mencapai sekitar 22,7 hektare.
Dengan demikian, berdasarkan laporan penanganan di masing-masing lokasi, luas lahan yang dilakukan pemadaman mencapai sekitar 46 hektare.
Kapten Didik menjelaskan, penanganan Karhutla melibatkan empat anggota Koramil 1205-01/Nanga Pinoh, 10 personel Yonif 642/Kps dan empat warga setempat. Selain melakukan pemadaman, personel juga berkoordinasi dengan instansi terkait dalam upaya penanggulangan kebakaran.
“Penanganan dilakukan bersama unsur terkait dan masyarakat. Kami juga terus melakukan koordinasi agar setiap titik yang terdeteksi dapat segera dicek dan ditangani sebelum kebakaran meluas,” jelasnya.
Selain pemadaman, personel di lapangan juga melakukan pengawasan terhadap aktivitas masyarakat yang membuka lahan dengan cara dibakar. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah pembakaran lahan berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
“Kami juga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai dampak dari pembakaran lahan. Asap akibat Karhutla tidak hanya dapat mengganggu kesehatan, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan,” ungkapnya.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dan lebih mengutamakan metode yang aman dalam berkebun maupun bercocok tanam.
“Kami mengimbau masyarakat agar dalam membuka lahan untuk berkebun dan bercocok tanam tidak dilakukan dengan cara membakar. Kesadaran masyarakat sangat penting untuk mencegah terjadinya kebakaran lahan yang berkelanjutan,” tegas Kapten Didik.
Dalam laporan akhir kegiatan, lahan yang terbakar telah berhasil dipadamkan. Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali api di lokasi yang sebelumnya terbakar. (Bgs).















