Wartamelawi.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Kebakaran dilaporkan terjadi di Desa Nanga Kayan, Kecamatan Nanga Pinoh, dan Desa Batu Nanta, Kecamatan Belimbing, pada Senin (24/8/2026).
Informasi kejadian diterima sekitar pukul 11.45 WIB berdasarkan laporan kepala desa dan masyarakat. Kedua lokasi yang terbakar merupakan kawasan lahan gambut, sehingga api masih menyala dan proses pemadaman membutuhkan penanganan secara intensif.
Kepala BPBD Kabupaten Melawi, Dr. Daniel, S.P., M.M., melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Kabid KL) BPBD Kabupaten Melawi, Rahmad Mauludin, mengatakan tim gabungan telah melakukan pemadaman sekaligus monitoring di kedua lokasi.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Desa Nanga Kayan, Kecamatan Nanga Pinoh, dan Desa Batu Nanta, Kecamatan Belimbing. Kedua lokasi tersebut merupakan kawasan lahan gambut, sehingga api masih menyala dan membutuhkan penanganan secara intensif,” ujar Rahmad.
Berdasarkan laporan sementara, luas lahan yang terbakar di Desa Nanga Kayan diperkirakan mencapai sekitar 201 hektare, sedangkan di Desa Batu Nanta sekitar 103 hektare. Dengan demikian, total lahan yang terbakar di dua lokasi tersebut diperkirakan mencapai 304 hektare.
“Untuk Desa Nanga Kayan, luas lahan yang terbakar diperkirakan sekitar 201 hektare, sementara di Desa Batu Nanta sekitar 103 hektare. Api masih menyala karena lahan yang terbakar merupakan lahan gambut,” jelasnya.
Penanganan sementara dilakukan melalui pemadaman dan monitoring untuk mencegah api meluas. Sejumlah unsur dikerahkan ke lapangan, terdiri dari TRC-PB BPBD Kabupaten Melawi, BPBD Melawi, Polres Melawi dan jajaran, Damkar Melawi serta Satpol PP Melawi.
“Tim gabungan masih melakukan pemadaman dan monitoring di lokasi kejadian. Upaya ini dilakukan untuk mengendalikan api sekaligus mencegah kebakaran meluas ke kawasan lainnya,” katanya.
Namun, proses pemadaman di lapangan menghadapi sejumlah kendala. Jarak lokasi kejadian yang cukup jauh dari pusat kabupaten menjadi salah satu hambatan. Selain itu, karakteristik lahan gambut membuat api lebih sulit dipadamkan karena api masih dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya sumber air di sekitar lokasi serta medan yang sulit dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua.
“Kendala yang dihadapi di lapangan antara lain jarak tempuh menuju lokasi yang cukup jauh, lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut, minimnya sumber air, serta medan yang sulit dilalui kendaraan. Kondisi tersebut cukup menyulitkan proses penanganan,” ungkap Rahmad.
Untuk mempercepat penanganan Karhutla, BPBD Kabupaten Melawi membutuhkan dukungan Satgas Water Bombing serta sarana dan prasarana penanganan Karhutla.
“Kebutuhan yang mendesak saat ini adalah dukungan Satgas Water Bombing dan sarana prasarana penanganan Karhutla. Dukungan ini diperlukan untuk membantu mempercepat pemadaman, terutama di lokasi yang sulit dijangkau dan memiliki keterbatasan sumber air,” ujar Rahmad.
Dalam kejadian tersebut, tidak terdapat korban jiwa. Tim gabungan masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan api di kedua lokasi untuk memastikan kebakaran tidak meluas ke kawasan lainnya.
Rahmad juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama kondisi cuaca kemarau. Pemerintah kecamatan dan desa diharapkan aktif memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya Karhutla serta pentingnya pencegahan sejak dini.
“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Apabila melakukan aktivitas yang berkaitan dengan pembakaran lahan, harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan memperhatikan kondisi lingkungan,” tegasnya.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kebakaran kepada BPBD, pemerintah desa, pemerintah kecamatan maupun kepolisian agar dapat ditangani sedini mungkin.
“Apabila menemukan adanya titik api atau kebakaran, segera laporkan kepada BPBD, pemerintah desa, kecamatan maupun Polsek setempat agar dapat ditangani secepat mungkin,” katanya.
Selain itu, pemerintah kecamatan dan desa diharapkan menyiapkan peralatan pemadam kebakaran sebagai langkah antisipasi awal apabila terjadi kebakaran di wilayah masing-masing.
“Pemerintah kecamatan dan desa diharapkan berperan aktif memberikan penyuluhan tentang bahaya kebakaran sekaligus menyiapkan peralatan pemadam kebakaran untuk penanganan awal. Pencegahan dan kesiapsiagaan bersama sangat penting untuk mencegah Karhutla semakin meluas,” pungkas Rahmad. (Bgs).















