Wartamelawi.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terjadi di seputaran Bandara, Desa Tanjung Niaga, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Selasa (25/8/2026). Api kembali muncul pada siang hari, setelah sebelumnya berhasil dipadamkan oleh tim gabungan pada malam sebelumnya.
Luas lahan yang terbakar di kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar satu hektare. Lokasi kebakaran juga berada tidak jauh dari permukiman warga sehingga petugas bergerak cepat melakukan pemadaman untuk mencegah api meluas dan mengancam rumah masyarakat.
Kepala BPBD Kabupaten Melawi, Dr. Daniel, SP., M.M., M.Pd.K., melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Kabid KL) BPBD Kabupaten Melawi, Rahmad Mauludin, membenarkan kejadian tersebut.
“Untuk kejadian Karhutla di seputaran Bandara Desa Tanjung Niaga, Kecamatan Nanga Pinoh, api kembali hidup pada siang hari, padahal pada malam sebelumnya sudah berhasil dipadamkan,” ujar Rahmad Mauludin.
Rahmad menjelaskan, kondisi lahan yang masih menyimpan bara menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai. Terlebih, lokasi kebakaran berada cukup dekat dengan rumah warga sehingga pemadaman dan monitoring terus dilakukan untuk mencegah api kembali menyebar.
“Luas lahan yang terbakar diperkirakan sekitar satu hektare. Lokasinya juga tidak jauh dari rumah warga, sehingga petugas melakukan pemadaman dan monitoring untuk mengantisipasi api kembali menyebar,” jelasnya.
Dalam penanganan Karhutla di kawasan tersebut, BPBD Kabupaten Melawi berkoordinasi dengan Polsek Nanga Pinoh, Damkar Kabupaten Melawi, Tagana dan PDAM Tirta Melawi. Tim gabungan melakukan penyiraman serta pendinginan pada titik-titik yang masih mengeluarkan asap dan berpotensi kembali terbakar.
“Penanganan dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan BPBD Melawi, Polsek Nanga Pinoh, Damkar Melawi, Tagana dan PDAM Tirta Melawi. Selain pemadaman, petugas juga melakukan pemantauan terhadap kondisi di lokasi,” ungkap Rahmad.
Rahmad juga meminta dukungan dari pihak Bandara Nanga Pinoh, mengingat lokasi kebakaran berada di kawasan bandara dan sebagian titik api berada di balik pagar pembatas. Kondisi tersebut membuat akses petugas menuju titik kebakaran menjadi lebih sulit.
“Kami juga menyampaikan kepada pihak Bandara Nanga Pinoh untuk ikut ambil bagian dalam penanganan, karena kawasan yang terbakar masuk dalam area bandara dan terdapat pagar yang sedikit menyulitkan petugas untuk masuk menuju titik api,” jelas Rahmad.
Menurutnya, Bandara Nanga Pinoh memiliki unit pemadam kebakaran yang diharapkan dapat membantu penanganan apabila terjadi kebakaran di dalam kawasan bandara, terlebih dalam kondisi Karhutla seperti saat ini.
“Bandara Nanga Pinoh kan memiliki unit Damkar. Maksud kami, dalam kondisi seperti ini, apalagi lokasi yang terbakar masuk kawasan bandara, kami mohon untuk dapat membantu penanganan,” harapnya.
Selain di kawasan Bandara Desa Tanjung Niaga, BPBD Kabupaten Melawi pada Selasa (25/8/2026) juga menerima laporan Karhutla di Desa Nanga Kayan dan Desa Kenual, Kecamatan Nanga Pinoh, serta Desa Batu Nanta, Kecamatan Belimbing. Informasi tersebut diterima sekitar pukul 11.45 WIB berdasarkan laporan kepala desa dan masyarakat.
Di Desa Nanga Kayan, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 206 hektare. Api masih menyala dan menyebar karena kawasan yang terbakar merupakan lahan gambut. Sementara di Desa Batu Nanta, luas lahan terbakar diperkirakan mencapai sekitar 110 hektare dan api juga masih menyala serta menyebar.
Sedangkan di Desa Kenual, luas lahan yang terbakar diperkirakan sekitar 0,5 hektare. Kondisi terakhir, lahan masih mengeluarkan asap akibat material yang terbakar merupakan lahan gambut.
Rahmad mengatakan, karakteristik lahan gambut menjadi salah satu tantangan utama dalam proses pemadaman. Api dapat bertahan dan menyebar di bawah permukaan tanah sehingga titik yang sebelumnya telah dipadamkan masih berpotensi kembali menyala.
“Khusus untuk Desa Nanga Kayan dan Batu Nanta, kawasan yang terbakar merupakan lahan gambut. Kondisi ini menjadi tantangan dalam pemadaman karena api masih dapat menyala dan menyebar,” kata Rahmad.
Selain kondisi lahan, petugas juga menghadapi sejumlah kendala, di antaranya jarak tempuh lokasi yang cukup jauh dari pusat kabupaten, minimnya sumber air serta akses jalan yang sulit menuju beberapa lokasi kebakaran.
Untuk mempercepat penanganan Karhutla, BPBD Kabupaten Melawi menyampaikan kebutuhan dukungan Satgas Water Bombing serta sarana dan prasarana penanganan Karhutla.
“Kebutuhan mendesak saat ini antara lain dukungan Satgas Water Bombing dan sarana prasarana penanganan Karhutla, terutama untuk membantu penanganan di lokasi yang sulit dijangkau dan memiliki keterbatasan sumber air,” terang Rahmad.
Hingga laporan diterima, tidak terdapat korban jiwa akibat kejadian Karhutla tersebut. Petugas BPBD bersama unsur terkait masih melakukan pemadaman dan monitoring terhadap perkembangan titik api di sejumlah wilayah.
Rahmad juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan mengingat kondisi cuaca kemarau yang membuat lahan lebih mudah terbakar. Masyarakat diminta berhati-hati ketika melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api, khususnya saat membuka atau membersihkan lahan.
“Mengingat kondisi cuaca kemarau, kami mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati apabila melakukan pembakaran lahan. Jangan meninggalkan api dalam keadaan menyala dan segera laporkan apabila menemukan titik api kepada BPBD, pemerintah desa, kecamatan maupun Polsek setempat,” imbau Rahmad.
Pemerintah kecamatan dan desa juga diharapkan aktif memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya Karhutla serta menyiapkan peralatan pemadam kebakaran sebagai langkah antisipasi awal di wilayah masing-masing.
Dengan kondisi lahan gambut yang masih rawan terbakar dan munculnya kembali api setelah sebelumnya berhasil dipadamkan, masyarakat diminta tidak lengah serta bersama-sama mencegah Karhutla agar tidak semakin meluas. (Bgs).














