Berita MelawiBPBD MelawiKarhutlaWarta Melawi

Api Kepung Lima Desa di Melawi, Medan Sulit dan Lahan Gambut Hambat Pemadaman

34
×

Api Kepung Lima Desa di Melawi, Medan Sulit dan Lahan Gambut Hambat Pemadaman

Sebarkan artikel ini

Wartamelawi.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Berdasarkan laporan yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Melawi pada Rabu, 19 Agustus 2026 sekitar pukul 11.45 WIB, kebakaran dilaporkan terjadi di lima desa yang berada di Kecamatan Belimbing dan Kecamatan Nanga Pinoh.

Lima wilayah yang terdampak yakni Desa Pemuar Bukit Matok, Desa Pemuar Bukit Berakah dan Desa Batu Nanta di Kecamatan Belimbing, serta Desa Nanga Kayan dan Desa Baru di Kecamatan Nanga Pinoh.

Informasi mengenai kejadian tersebut diterima BPBD Kabupaten Melawi dari laporan kepala desa dan masyarakat. Menindaklanjuti informasi tersebut, Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Kabupaten Melawi langsung melakukan pemadaman dan pemantauan terhadap sejumlah titik kebakaran.

Berdasarkan kondisi terakhir, luas lahan yang terbakar di lima lokasi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 291,3 hektare. Kebakaran terluas terjadi di Desa Nanga Kayan dengan luas sekitar 179 hektare, disusul Desa Batu Nanta sekitar 81 hektare, Desa Pemuar Bukit Berakah sekitar 23 hektare, Desa Pemuar Bukit Matok sekitar 8 hektare, serta Desa Baru sekitar 0,3 hektare.

Kondisi di lapangan masih menjadi perhatian serius karena api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan di sejumlah lokasi. Di Desa Pemuar Bukit Matok, api masih menyala pada area yang terbakar sekitar 8 hektare.

Kondisi lebih mengkhawatirkan terjadi di Desa Nanga Kayan. Kebakaran telah melanda sekitar 179 hektare lahan gambut dan api masih menyala hingga laporan terakhir diterima.

Hal serupa terjadi di Desa Batu Nanta. Sekitar 81 hektare lahan gambut dilaporkan terbakar dan api masih menyala. Karakteristik lahan gambut menjadi salah satu faktor yang membuat proses pemadaman lebih sulit dan membutuhkan penanganan secara intensif.

Untuk Desa Pemuar Bukit Berakah, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 23 hektare. Sedangkan di Desa Baru, Kecamatan Nanga Pinoh, kebakaran yang melanda sekitar 0,3 hektare lahan berhasil dipadamkan.

Kepala BPBD Kabupaten Melawi, Dr. Daniel, S.P., M.M., melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Kabid KL) BPBD Kabupaten Melawi, Rahmad Mauludin, mengatakan penanganan Karhutla terus dilakukan dengan mengerahkan kemampuan dan sumber daya yang tersedia.

Namun, kondisi geografis sejumlah lokasi menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan. Jarak lokasi kejadian yang cukup jauh dari pusat Kabupaten Melawi membuat mobilisasi personel dan peralatan membutuhkan waktu serta dukungan operasional yang memadai.

“Pemerintah daerah sudah berupaya semaksimal mungkin untuk mengatasi masalah Karhutla di Kabupaten Melawi. Namun, apabila dukungan dari pemerintah pusat melalui BNPB terlambat, tentu penanganan Karhutla dan ancaman kekeringan di Kabupaten Melawi akan sulit dilakukan secara cepat,” ujar Rahmad Mauludin.

Menurut Rahmad, kondisi di kawasan Pemuar menjadi salah satu kendala karena titik kebakaran berada di wilayah perbukitan. Selain sulit dijangkau, sebagian lokasi juga tidak memiliki akses yang memadai menuju titik api.

“Untuk wilayah Pemuar, kawasan yang terbakar berada di perbukitan dan tidak terdapat akses menuju beberapa titik api. Kondisi ini tentunya menyulitkan petugas dalam melakukan pemadaman secara langsung,” jelasnya.

Sementara itu, di Desa Nanga Kayan dan Batu Nanta, kebakaran terjadi pada kawasan lahan gambut. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan lebih serius karena api dapat bertahan di dalam lapisan gambut dan berpotensi kembali muncul meskipun api di permukaan telah berhasil dikendalikan.

“Di Nanga Kayan dan Batu Nanta, lahan yang terbakar merupakan lahan gambut. Selain itu, sumber air di lokasi juga terbatas. Medan yang sulit dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua turut menjadi kendala dalam proses penanganan,” ungkap Rahmad.

Dengan kondisi kebakaran yang masih berlangsung di sejumlah lokasi, BPBD Kabupaten Melawi membutuhkan dukungan tambahan untuk mempercepat penanganan Karhutla. Salah satu kebutuhan yang dinilai mendesak adalah dukungan water bombing untuk membantu pemadaman dari udara, terutama pada lokasi yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.

Selain water bombing, dukungan berupa sarana dan prasarana penanganan Karhutla juga diperlukan untuk memperkuat operasi pemadaman di lapangan.

“Kebutuhan mendesak saat ini adalah dukungan water bombing serta sarana dan prasarana penanganan Karhutla. Dukungan tersebut sangat diperlukan, terutama untuk lokasi yang sulit dijangkau dan memiliki keterbatasan sumber air,” kata Rahmad.

BPBD Kabupaten Melawi bersama TRC-PB terus melakukan pemadaman dan monitoring terhadap titik-titik kebakaran. Petugas juga berupaya mencegah agar api tidak meluas ke kawasan lainnya.

Hingga laporan terakhir, tidak terdapat korban jiwa akibat kejadian Karhutla tersebut. Meski demikian, potensi meluasnya kebakaran tetap menjadi perhatian karena kondisi cuaca yang masih kering dan beberapa titik api belum sepenuhnya padam.

BPBD Kabupaten Melawi mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau. Pemerintah kecamatan dan desa juga diminta aktif memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya Karhutla.

Masyarakat yang melakukan aktivitas pembukaan atau pembakaran lahan diimbau agar sangat berhati-hati dan tidak meninggalkan api tanpa pengawasan.

“Dalam kondisi cuaca kemarau seperti sekarang, kami mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati apabila melakukan pembakaran lahan. Jika menemukan titik api atau terjadi kebakaran, segera laporkan kepada pemerintah desa, kecamatan, BPBD maupun pihak kepolisian setempat,” tutur Rahmad.

Pemerintah kecamatan dan desa juga diharapkan menyiapkan peralatan pemadam kebakaran sebagai langkah antisipasi awal sebelum api berkembang menjadi lebih besar.

Penanganan Karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, baik pemerintah daerah, BPBD, TNI-Polri, pemerintah kecamatan dan desa maupun masyarakat. Dengan kondisi medan yang sulit, keterbatasan sumber air dan luasnya wilayah yang terdampak, sinergi antarpihak menjadi faktor penting dalam mempercepat pemadaman sekaligus mencegah munculnya titik api baru.

Karhutla yang melanda lima desa tersebut menjadi perhatian serius BPBD Kabupaten Melawi. Selain penanganan terhadap api yang masih menyala, dukungan sarana, peralatan dan operasi water bombing dinilai diperlukan untuk menjangkau kawasan yang sulit ditangani melalui jalur darat. Hingga laporan terakhir, korban jiwa akibat kejadian tersebut nihil. (Bgs).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250Example 728x250