BeritaBPBD KalbarKalbarKarhutlaMusibahWarta Melawi

BPBD Kalbar Perkuat Serangan Udara, Karhutla Masih Mengancam

33
×

BPBD Kalbar Perkuat Serangan Udara, Karhutla Masih Mengancam

Sebarkan artikel ini

Wartamelawi.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian serius di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Berdasarkan Briefing Malam Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Penanggulangan Bencana BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Selasa, (01 /09/2026), upaya penanganan terus dilakukan melalui operasi darat, patroli udara, hingga water bombing.

Koordinator Harian Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Kalimantan Barat, Daniel, SE., S.Pd, mengatakan penanganan karhutla dilakukan secara terpadu dengan mengoptimalkan kekuatan satgas di lapangan serta dukungan operasi udara.

“Penanganan karhutla terus kita lakukan secara terpadu. Satgas darat tetap melaksanakan patroli dan pemadaman di wilayah masing-masing, sementara dukungan udara dilakukan untuk menjangkau titik-titik kebakaran yang membutuhkan penanganan lebih cepat,” ujar Daniel.

Ia menjelaskan, operasi water bombing pada Selasa, 1 September 2026, masih difokuskan di sejumlah wilayah yang berdasarkan laporan lapangan membutuhkan dukungan pemadaman dari udara. Di Ketapang, misalnya, helikopter Sikorsky EH-60A Reg. N61AA melakukan 42 kali drop water dengan total 168.000 liter air di kawasan Sungai Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan. Kondisi titik tersebut masih dilaporkan berasap.

Selain itu, helikopter MI-17-1V Reg. VN-8416 melaksanakan 30 kali bombing dengan total 120.000 liter air di Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang. Titik sasaran juga masih dilaporkan berasap sehingga penanganan dilanjutkan.

“Kondisi di lapangan memang dinamis. Ketika masih ditemukan asap atau indikasi kebakaran, penanganan terus dilanjutkan dan dikoordinasikan dengan satgas darat. Dukungan water bombing dilakukan berdasarkan kebutuhan dan permintaan dari tim di lapangan,” kata Daniel.

Data operasi BPBD Kalbar juga mencatat sejumlah armada udara telah berkontribusi dalam penanganan lahan terbakar. Super Puma H225 Reg. VH-HGM tercatat menangani lahan terbakar sekitar 405 hektare dengan luas lahan yang telah dipadamkan sekitar 145 hektare. Sementara Sikorsky UH-60L Reg. VH-L6T menangani sekitar 137,5 hektare lahan terbakar dan telah memadamkan sekitar 69 hektare. Sikorsky EH-60A Reg. N61AA mencatat sekitar 147 hektare lahan terbakar dengan sekitar 61 hektare telah dipadamkan.

Armada lainnya juga mencatat hasil penanganan, di antaranya MI-172 Reg. VN-8424 dengan luas lahan terbakar sekitar 75,5 hektare dan sekitar 31 hektare telah dipadamkan, serta MI-17-1V Reg. VN-8416 dengan luas lahan terbakar sekitar 85 hektare dan sekitar 32 hektare telah dipadamkan.

Di sisi lain, patroli udara juga terus dilakukan untuk mendeteksi keberadaan hotspot dan memastikan kondisi lapangan. Pesawat Cessna Grand Caravan 208B Reg. PK-SNG dijadwalkan melakukan patroli di sejumlah wilayah, meliputi Kubu Raya, Landak, Sanggau, Sekadau, Sintang, Kapuas Hulu hingga Melawi.

Namun, faktor asap juga menjadi kendala dalam operasi udara. Helikopter Bell 206 B3 Reg. PK-FPA bahkan harus membatalkan penerbangan patroli wilayah utara Kalimantan Barat karena jarak pandang berada di bawah batas minimum akibat asap sehingga penerbangan dinilai tidak memenuhi aspek keselamatan.

“Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas. Kalau kondisi jarak pandang tidak memungkinkan dan berada di bawah batas minimum, penerbangan harus dibatalkan. Ini bagian dari prosedur keselamatan, bukan berarti penanganan dihentikan. Tim tetap memantau dan mencari opsi penanganan lainnya,” tegas Daniel.

Sementara dari sisi darat, sejumlah unsur juga terus bergerak melakukan pemadaman dan pengendalian karhutla. Laporan BPBD mencatat keterlibatan Satpol PP, Manggala Agni, Polri, TNI AD, TNI AL serta unsur lainnya dalam operasi pemadaman di berbagai wilayah Kalimantan Barat.

Daniel juga mengingatkan pentingnya koordinasi antara petugas udara dengan masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran. Dalam briefing BPBD, operator helikopter patroli dan water bombing diminta memastikan keberadaan petani, penjaga lahan maupun gubuk atau pondok sebelum melakukan penjatuhan air. Masyarakat atau petani juga disarankan memasang tanda berupa patok bendera di empat sudut lahan agar lebih mudah dikenali dari udara.

“Kami mengimbau masyarakat yang beraktivitas di lahan terbuka untuk memperhatikan keselamatan dan membantu memberikan tanda yang mudah terlihat dari udara. Koordinasi seperti ini penting agar operasi pemadaman berjalan efektif sekaligus tidak membahayakan masyarakat yang berada di sekitar lokasi,” pungkasnya.

Operasi penanganan karhutla di Kalimantan Barat hingga kini masih berlangsung dengan mengedepankan prinsip reaktif, cepat dan tangguh, sebagaimana menjadi semangat operasi BPBD Provinsi Kalimantan Barat. (Bgs).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250Example 728x250